Semua Orang Berisiko untuk Mengalami Penyakit Kritis

Penyakit kritis bisa terjadi pada siapa saja dan bisa berawal dari kondisi penyakit yang ringan. (Unsplash/Sharon McCutcheon)

Penyakit kritis merupakan penyakit yang memiliki dampak katastropik bagi pasien, termasuk ancaman terjadinya disabilitas. Selama ini penyakit kritis identik dengan penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, stroke, atau kanker, yang terjadi pada usia lanjut. Padahal penyakit yang dianggap ringan pun bisa berubah menjadi penyakit kritis bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. 

Penyakit kritis bisa terjadi pada penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Apalagi menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setiap tahunnya muncul lima jenis penyakit baru yang bisa terjadi pada manusia. Anda sebaiknya waspada terhadap ancaman penyakit-penyakit tersebut.

“Jangan mengabaikan penyakit yang terkesan sepele, contohnya seperti demam berdarah atau gangguan lambung, bisa berubah menjadi kondisi penyakit kritis bila tidak mendapat penanganan yang cepat dan tepat,” ucap Laurentius Aswin Pramono, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, RS St. Carolus Jakarta, yang ditemui dalam peluncuran PRUTop Prudential, di Jakarta, Senin (13/1).

Aswin juga mengingatkan bahwa penyakit kritis dapat menyerang siapa saja dari segala jenis usia tanpa memandang status sosial ekonomi. Masyarakat perlu mengantisipasi ancaman penyakit kritis ini dengan mengubah gaya hidup mereka dan lebih menyadari dampak yang akan ditimbulkan. Penyakit kritis dapat berdampak pada aspek psikologis, sosial, hingga finansial yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan keuangan keluarga.

Penyakit kritis tidak hanya menimbulkan beban keuangan berupa biaya rumah sakit, namun juga biaya hidup. Sebagai contoh, suatu penelitian menyebutkan 83 persen pasien Multidrug-Resistant Tuberculosis dari berbagai pusat kesehatan di Indonesia mengalami dampak katastropik terhadap keuangan rumah tangga akibat penyakitnya. Dalam rentang waktu enam bulan setelah didiagnosis, 86 persen kehilangan pendapatan, 32 persen harus meminjam uang dan 18 persen dari mereka mengakui menjual properti untuk menutupi pengeluaran.

Menyadari tantangan tersebut, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) membuat terobosan baru dengan meluncurkan PRUTotal Critical Protection (PRUTop) dan PRUTotal Critical Protection Syariah (PRUTop Syariah). Solusi ini adalah rangkaian produk pelengkap asuransi tambahan inovatif pertama di industri dalam memastikan masyarakat Indonesia terlindungi secara total tanpa ada batasan jumlah maupun jenis penyakit kritis.

“PRUTop dan PRUTop Syariah menawarkan konsep baru perlindungan kondisi kritis yang berfokus pada perawatan, tindakan, atau ketidakmampuan permanen yang terjadi akibat kondisi kritis. Hal tersebut yang menjadikan PRUTop dan PRUTop Syariah unggul di kelasnya karena kedua produk ini mampu melindungi kesehatan dan finansial masyarakat Indonesia secara menyeluruh dan memastikan mereka hidup lebih tenang,” ucap Himawan Purnama, Head of Product Development Prudential Indonesia.


Article By Rianti Fajar

Share Article