Jakarta Ramah Demensia dan Lansia

Organisasi kesehatan internasional, Alzheimer Disease International (ADI) memberikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena telah mendukung berbagai kegiatan peningkatan kesadaran Alzheimer. Penghragaan tersebut diserahkan langsung oleh direktur eksekutif ADI, Marc Wortmann kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama di Balai Agung, Balaikota DKI Jakarta (11/10).

"Kami mengapresiasi Gubernur DKI jakarta yang telah memfasilitasi berbagai sosialisasi kesadaran penyakit Alzheimer dengan menginstruksikan jajarannya untuk membuat Jakarta ramah lansia dan ramah demensia," kata Wortmann.

Fakta menyebutkan 1 dari 10 orang lansia diatas umur 65 tahun menderita Alzheimer. Penyakit ini, tidak bisa disembuhkan. Pengunaan obat hanya akan membantu mengurangi dampak dari kerusakan yang disebabkan oleh penyakit ini. Banyak masyarakat kita yang beranggapan, bahwa pikun adalah hal yang wajar jika seseorang telah lansia. Padahal masalah tersebut bukanlah hal yang wajar. Seharusnya para lansia tetap bisa memiliki ingatan yang baik di masa tuanya, untuk tetap dapat menjadi penasehat bagi generasi muda lewat pengalaman hidup mereka. Tetapi karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai Alzheimer dan Demensia, banyak para lansia yang kehilangan kemampuan mengingat di masa tua mereka.

Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia yang ada di Jakarta, dengan upaya mewujudkan kota Jakarta ramah demensia dan lansia lewat program-program yang sudah, dan masih akan terus dikembangkan. Jakarta juga merupakan kota pertama dan satu-satunya di dunia yang bisa menjadi kota ramah Demensia dan lansia yang memiliki penduduk mencapai 12 juta jiwa. Hal diatas dapat tercipta lewat kerjasama antara Pemprov DKI beserta Alzhaimer Indonesia yang selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia (ODD), Alzheimer, keluarga ODD dan caregivers di Indonesia.

Pada tahun ini, pemahaman tentang Demensia dan Alzheimer juga mulai ditanamkan kepada para generasi muda lewat materi sosialisasi yang diberikan pada saat Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB). Pemprov DKI juga terus meningkatkan kapabilitasnya dalam sosialisasi kepikunan ini lewat pelatihan para pekerja kantoran maupun pekerja layanan publik di Jakarta, dan juga melalui media. Uniknya, baru-baru ini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) juga melakukan sebuah penelitian dan menemukan fakta bahwa, tarian poco-poco bisa mengurangi dampak terkena Alzheimer pada lansia. Hal ini membuktikan bahwa seluruh elemen masyarakat di Jakarta sudah mulai peduli terhadap masalah ini. Untuk itu, menjadi tugas kita bersama untuk terus mendukung upaya Pemprov DKI dan pihak-pihak yang terkait untuk tetap menjadikan Jakarta sebagai kota Ramah Demensia dan Lansia.


Article By Dewi Warsito

Share Article