Hipertensi: Pembunuh Senyap yang Harus Dipantau Setiap Saat

Memeriksa tekanan darah di rumah sangat penting untuk penderita hipertensi. (Foto: medicalnewstoday.com)

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang ternyata menyerang banyak orang, terutama di Indonesia. Belum lagi, hipertensi atau tekanan darah tinggi ini juga dikenal sebagai silent killer, karena umumnya muncul tanpa gejala atau tanda-tanda yang jelas. Inilah yang membuat hipertensi menjadi salah satu masalah kesehatan yang tidak boleh disepelekan.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu kondisi ketika darah memberikan tekanan yang terlalu besar terhadap dinding arteri dalam tubuh. Tekanan darah biasanya ditulis dalam dua angka yakni sistolik dan diastolik. Sistolik mewakilkan kondisi tekanan darah di arteri ketika jantung berdetak. Sementara diastolik mewakili tekanan di arteri ketika jantung beristirahat di antara detakan jantung.

Umumnya, tekanan darah normal akan berada di kisaran angka 120/80 mmHg. Sementara, tekanan darah tinggi dibagi dalam tiga derajat, yakni hipertensi derajat 1 yang berkisar pada 140/90 mmHg - 159/99 mmHg, hipertensi derajat 2 yakni 160/100 mmHg - 179/109 mmHg, dan hipertensi derajat 3 yakni lebih dari 180/110 mmHg.

Banyak penderita hipertensi yang tidak menyadari bahwa ia sebenarnya memiliki kondisi ini. Padahal, hipertensi yang tidak terkendali bisa menyebabkan komplikasi kesehatan. Ketika darah memberikan tekanan yang terlalu besar pada dinding pembuluh darah, ini bisa merusak fungsi organ di sekitarnya, seperti jantung, otak, ginjal, mata, pembuluh darah besar, dan pembuluh darah tepi.

Hipertensi juga acap kali menjadi penyebab pecahnya pembuluh darah seseorang. Beberapa kasus pecahnya pembuluh darah di otak bahkan berujung pada kematian yang tidak diharapkan. Untuk mencegah masalah ini terjadi, pemeriksaan rutin tekanan darah harus dilakukan.

Namun, ada satu hal yang harus Anda soroti. Pemeriksaaan tekanan darah tak melulu hanya dilakukan di klinik atau rumah sakit. Karena ternyata, ada kondisi bernama white coat hypertension dan masked hypertension.

White coat hypertension merupakan kondisi tekanan darah tinggi yang hanya terjadi di klinik, puskesmas, atau rumah sakit, yang biasanya berhubungan dengan kegugupan atau kecemasan seseorang saat hendak menjalankan pemeriksaan tekanan darah dengan ahli medis. Sementara masked hypertension merupakan kondisi tekanan darah tinggi terselubung, di mana terdapat dua hasil pengukuran tekanan darah yang berbeda, baik yang dilakukan di klinik atau di rumah.

Beberapa orang mengaku sangat ketakutan ketika tekanan darahnya akan diukur oleh seorang tenaga medis. Ini membuat jantung mereka berdetak lebih kencang sehingga angka tekanan darah saat pemeriksaan menunjukkan hasil yang sangat tinggi. 

Pemeriksaan tekanan darah idealnya dilakukan tidak hanya sekali, namun tiga kali dengan jarak sekitar satu menit dari setiap pemeriksaan. Pemeriksaan tekanan darah juga akan lebih optimal jika pasien memenuhi syarat, seperti tidak merokok atau minum kopi  30 menit sebelum pemeriksaan, tidak melakukan kegiatan fisik berlebih seperti naik turun tangga, dan telah beristirahat selama 5-10 menit.

Tekanan darah memang bukan perkara angka pasti, namun merupakan gelombang yang tentunya bisa berubah sesuai dengan kondisi atau aktivitas yang dilakukan seseorang. Akan tetapi, jika hal ini diterapkan di rumah sakit atau klinik yang biasanya selalu dipenuhi oleh pasien lain yang juga harus ditangani segera, tentu akan sangat menyulitkan.

Oleh karena itu, para dokter kini sudah menyarankan bagi pasien hipertensi untuk senantiasa rutin memeriksa tekanan darah sendiri di rumah atau CERAMAH (Cek Tekanan Darah di Rumah). Memeriksa tekanan darah di rumah, akan sangat membantu mengontrol hipertensi. Selain itu, kondisi rumah yang nyaman juga akan membuat seseorang lebih relaks, sehingga hasil pemeriksaan yang didapat juga bisa lebih akurat.

Memeriksa tekanan darah di rumah sangat dianjurkan bagi semua orang yang telah terdiagnosa hipertensi, baik yang sudah diresepkan obat maupun yang tidak. Ini dilakukan guna memperkuat diagnosis hipertensi yang diberikan oleh dokter.

Adapun beberapa persiapan yang harus dilakukan pasien sebelum melakukan pemeriksaan tekanan darah di rumah, yakni:

  • Tidak diperkenankan mengonsumsi kafein, merokok, atau melakukan aktivitas fisik yang berat minimal 30 menit sebelum pemeriksaan.
  • Tidak menahan buang air kecil atau buang air besar.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan yang mengandung stimulan adrenergik seperti fenilefrin atau pseudoefedrin, misalnya obat flu dan obat tetes mata.
  • Tidak memakai pakaian yang ketat terutama di bagian lengan
  • Pasien harus dalam kondisi yang tenang.
  • Beristirahat 5 menit sebelum pemeriksaan.
  • Pemeriksaan dilakukan dalam ruangan yang tenang dan nyaman.
  • Pasien tetap dalam keadaan diam atau tidak berbicara saat melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan tekanan darah di rumah akan sangat membantu hipertensi untuk tetap dapat terkendali. Ini juga akan meningkatkan kesadaran pasien untuk patuh terhadap pengobatan hipertensi dan menjalankan gaya hidup sehat agar tekanan darah mereka tetap terkontrol. Selain itu, pemeriksaan tekanan darah di rumah secara rutin juga akan membantu meningkatkan peran aktif seluruh anggota keluarga, yang mana bisa menambah kedekatan dan interaksi antar anggota keluarga.

Pemeriksaan tekanan darah di rumah dapat dikatakan tercapai dengan baik jika tekanan darah rata-rata mencapai 135/85 mmHg. Sementara ukuran sistolik di bawah 125 mmHg sangat dianjurkan untuk orang-orang yang memiliki risiko tinggi hipertensi, seperti yang memiliki riwayat diabetes mellitus, penyakit ginjal kronik, dan penyakit jantung.

Dengan rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah di rumah, juga patuh terhadap pengobatan hipertensi yang diberikan oleh dokter, akan membuat hipertensi tetap terkendali sehingga mengecilkan risiko komplikasi pada pasien hipertensi. Ini tentunya juga akan meningkatkan kualitas hidup pasien, sehingga mereka tak harus terkungkung dalam ketakutan akan bahaya hipertensi yang mengancam keberlangsungan hidup mereka.


Article By Claudia Ramadhani

Share Article