6 Mitos dan Fakta Kesehatan Gigi Ibu Hamil

Kesehatan gigi tetap harus dirawat meski sedang hamil sekalipun. (Unsplash/Kyle Loftus)

Tak hanya kaki yang menjadi bengkak atau berat badan yang meningkat drastis, perubahan yang terjadi pada ibu hamil juga bisa terjadi pada gigi dan mulut. Sebab, perubahan hormonal pada masa kehamilan membuat ibu hamil berisiko lebih tinggi mengalami masalah pada gusi dan rentan mengalami karies gigi. Pada tahap lanjut, masalah ini bisa memengaruhi kesehatan janin. Itulah sebabnya, ibu hamil tetap wajib melakukan perawatan gigi dan mulut. Seperti membersihkan gigi, mengurangi konsumsi makanan manis dan lengket, bahkan rutin memeriksakan diri ke dokter gigi.

Sayangnya, banyak ibu hamil yang justru menghindari pergi ke dokter gigi, dengan alasan khawatir akan mengganggu kesehatan janin. Banyak pula mitos lain yang membuat ibu hamil enggan memeriksakan giginya.

Mitos: Saat hamil, ibu cenderung kehilangan gigi (keropos atau tanggal) akibat kalsium dalam gigi diambil janin.
Fakta: Banyak ibu hamil yang merasa giginya menjadi lebih lunak ketika hamil. Akibatnya, gigi mereka pun jadi mudah tanggal atau hancur. Hal ini bukan disebabkan oleh kalsium yang diambil oleh janin, melainkan saat hamil, biasanya ibu hamil mengalami mual  terus menerus yang membuat mereka muntah sepanjang hari. Asam lambung yang keluar melalui mulut inilah yang sebetulnya menyebabkan erosi permukaan gigi.

Mitos: Hal yang wajar jika saat hamil mengalami perdarahan pada gusi.
Fakta: Kehamilan membuat hormon progesteron meningkat. Hal ini menyebabkan respon berlebihan pada gusi saat terdapat plak berisi bakteri. Gusi pun menjadi lebih cepat bengkak dan berdarah. Namun, faktor lain seperti kurangnya kebersihan mulut dan gigi juga bisa mengakibatkan plak. Dengan memeriksakan ke dokter gigi, masalah ini bisa segera diatasi sehingga tak menyebabkan perdarahan pada gusi.

Mitos: Perawatan gigi harus ditunda hingga ibu hamil melahirkan.
Fakta: Beberapa tindakan medis pada mulut dan gigi masih aman dilakukan. Sebab, gangguan yang terjadi di sekitarnya bisa berdampak pada kesehatan ibu dan perkembangan janin. Meski demikian, ada beberapa tindakan medis pada mulut dan gigi yang tidak mendesak sebaiknya ditunda hingga trimester 2 atau sesudah melahirkan.

Mitos: Setelah muntah, ibu hamil harus segera membersihkan mulut dan gigi dengan cara menggosok gigi.
Fakta: Pada trimester pertama, ibu hamil kerap kali mengalami mual dan muntah. Saat ini, tidak disarankan bagi ibu hamil untuk membersihkan mulut dan gigi setelah muntah dengan cara menggosok gigi. Sebab, saat muntah, isi asam lambung akan menimbulkan korosi pada gigi dan membuat gigi menjadi lebih lunak. Jika Anda menggosok gigi, maka enamel gigi akan terkikis sehingga justru menimbulkan kerusakan. Untuk mengatasinya, Anda bisa membersihkan mulut dengan cara berkumur dengan air bersih.

Mitos: Bayi mendapatkan kalisum untuk pembentukan giginya dari kalsium pada gigi ibu hamil.
Fakta: Bayi mendapatkan asupan zat gizi dari ibu untuk tumbuh dan berkembang. Termasuk kalsium untuk membantu pertumbuhan tulang dan gigi. Namun, janin tidak mendapatkannya dari gigi ibu melainkan dari penyerapan zat gizi yang disalurkan oleh ibu. Itulah sebabnya, bila asupan gizi ibu hamil tidak mencukupi, maka pertumbuhan janin bisa terhambat.

Mitos: Pembusukan gigi pada ibu hamil lebih sering terjadi akibat perubahan hormon.
Fakta: Kerusakan atau pembusukan gigi bisa saja terjadi saat hamil. Namun hal ini tidak disebabkan oleh perubahan hormon, melainkan akibat ibu hamil itu sendiri yang tidak rajin menjaga kebersihan mulut dan giginya. Idealnya, ibu hamil tetap harus membersihkan giginya minimal dua kali sehari, berkumur dengan air bersih setelah muntah, dan mengunjungi dokter gigi untuk memeriksakan gusi. Bila kesehatan mulut dan gigi terjaga, maka ibu hamil bisa menjalani kehamilan dengan lebih nyaman.


Article By Rianti Fajar

Share Article