3 Gangguan Pencernaan yang Sering Terjadi Pada Bayi

Gangguan pencernaan pada bayi harus segera diatasi agar tidak menimbulkan masalah yang lebih serius. (Unsplash/Shelbey Miller)

Gangguan pencernaan merupakan salah satu gangguan kesehatan yang sering dialami anak-anak. Hal ini terjadi akibat belum matangnya sistem pencernaan anak, apalagi pada bayi. Gangguan pencernaan yang tidak segera ditangani dapat membahayakan keselamatan bayi. Hingga saat ini, diare bahkan masih menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak pada anak.

Berikut ini tiga gangguan pencernaan yang sering terjadi pada bayi dan cara mengatasinya:

1. Diare
Kondisi gangguan pencernaan ini ditandai dengan BAB dengan konsistensi cair dan frekuensi yang sering (lebih dari tiga kali sehari). Penyebab diare bisa beragam, mulai dari infeksi bakteri, virus, atau reaksi pada obat atau makanan tertentu. Salah satu hal yang harus diperhatikan saat bayi mengalami diare adalah gejala dehidrasi yang bisa terjadi seiring dengan diare yang dialami oleh bayi.
Pertolongan pertama untuk mengatasi diare pada bayi adalah cegah dehidrasi dengan memberikan larutan elektrolit seperti oralit atau larutan gula garam, lanjutkan pemberian ASI pada bayi yang masih mengonsumsi ASI dan berikan makanan bergizi dalam jumlah cukup.

2. Konstipasi
Ditandai dengan tinja yang keras, kering, dan sulit dikeluarkan sehingga menyebabkan nyeri saat anak BAB. Ia juga akan mengeluhkan nyeri perut atau menangis saat BAB. Konstipasi biasanya terjadi saat bayi tidak BAB lebih dari lima hari. Kondisi ini biasanya terjadi selama dua minggu atau lebih.
Pertolongan pertamanya adalah berikan makanan tinggi serat untuk melunakkan tinja, bila perlu berikan juga obat-obatan laksatif yang digunakan melalui anus. Pastikan juga bayi memenuhi kebutuhan cairannya. Tapi bila bayi mengalami satu atau lebih gejala yang menyertai seperti demam, muntah, berat badan turun, terdapat darah dalam tinja dan perut membuncit, sebaiknya Anda segera membawa buah hati Anda ke dokter.

3. Intoleransi Laktosa
Intoleransi laktosa merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pencernaan seperti kembung, diare, kentut, mual, dan nyeri perut setelah 30 menit sampai dua jam, setelah bayi mengonsumsi susu atau produk susu lainnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya enzim laktase dan malabsorbsi laktosa.
Pertolongan pertamanya yaitu hentikan sementara konsumsi susu dan produknya. Setelahnya, segera bawa bayi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mengatur makanan yang dibutuhkan bayi.


Article By Rianti Fajar

Share Article