Punya Sakit Jantung Jangan Sampai Salah Minum Obat

Saat seseorang sudah didiagnosis menderita penyakit jantung, kemungkinan ia harus mengonsumsi obat dalam jangka waktu yang cukup lama. Obat tersebut adalah obat pengencer darah yang lazim digunakan oleh seseorang yang sudah pernah mengalami seragan jantung dan juga stroke. Obat yang harus dikonsumsi setiap hari ini, bertujuan untuk mencegah terjadinya bekuan darah mendadak.

Dalam aliran darah terdapat platelet atau faktor pembekuan darah, yang terus bergerak sepanjang pembuluh darah. Pada penderita penyakit jantung, bisa terjadi gangguan pada kerja platelet, sehingga terbentuk plak yang dapat menyumbat aliran darah. Bila kondisi ini terjadi, maka serangan jantung pun tak bisa dielakkan.

Untuk mencegah terjadinya gangguan tersebut, maka penderita penyakit jantung membutuhkan obat pengencer darah agar tidak terjadi pembekuan darah. Hanya saja, pemakaian yang salah atau tidak sesuai dosis justru akan membuat terapi yang dilakukan menjadi sia-sia. Obat-obatan pengencer darah yang bisanya digunakan adalah yang mengandung zat aktif aspirin, clopidogrel atau ticlopidin.

"Itulah sebabnya diperlukan sebuah pemeriksaan yang dapat mengukur respon seseorang terhadap obat pengencer darah, terutama yang mengandung aspirin dan P2Y12 (Clopidogrel/Ticlopidin/Ticagrelor/Prasugrel)," jelas dr. Yudi Fadilla, SpJP, dokter spesialis jantung dari Siloam Hospitals Cinere.

Platelet Function Test atau tes yang digunakan untuk mengukur efektivitas obat pengencer darah, yang terdapat di Siloam Hospitals Cinere ini penting dilakukan, sebab:

1. Menurut penelitian, 1 dari 3 pasien tidak mendapat efek terapi yang memadai dari obat yang telah diminum secara
rutin dan teratur.

2. Pasien yang resisten terhadap obat clopidogrel memiliki risiko kejadian kematian otot jantung (Myocard Infarction), stent thrombosis dan kematian 5 kali lebih tinggi dibanding pasien yang mendapat respon baik terhadap obat clopidogrel.

3. Pasien yang resisten terhadap obat aspirin memiliki risiko kematian jantung, serangan jantung dan stroke 3 kali lebih tinggi dibanding pasien yang respon baik terhadap obat Aspirin.


Dokter Yudi merekomendasikan pemeriksaan ini dilakukan pada penderita jantung yang berusia di atas 50 tahun, penderita hipertensi, penderita diabetes melitus, penderita stroke, pasien dengan stent dan pasien pra operasi yang rutin menggunakan aspirin.


Article By Bebby Sekarsari

Share Article