Waspadai Hipoglikemia Pada Bayi

Siapa sangka, hipoglikemia tak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga bisa terjadi pada bayi, bahkan sejak baru lahir. Beberapa hal perlu Anda ketahui tentang hipoglikemia, seperti yang dijelaskan oleh dr. Michael Kasenda, Sp.A dari Siloam Hospitals Makasar.

Bagaimana bayi bisa mengalami hipoglikemia?
Hipoglikemia terjadi jika ada gangguan pada satu atau beberapa hubungan yang mengatur metabolisme glukosa semasa proses makan atau minum dan puasa. Hipoglikemia bisa terjadi sejak lahir dan merupakan masalah klinis yang umum pada neonatus (bayi kurang dari 1 bulan). Hipoglikemia memang  jarang terjadi pada masa bayi dan kanak-kanak, dan lebih jarang lagi pada anak yang lebih besar.

Apa penyebab hipoglikemia pada bayi? 
Pada usia kurang dari satu bulan terjadi transisi tiba-tiba dari kehidupan di dalam rahim ibu, yang ditandai oleh ketergantungan penuh pada suplai glukosa melalui tali pusat, ke kehidupan di luar rahim ibu, yang sepenuhnya bergantung pada kemampuan bayi untuk mempertahankan kadar glukosa yang normal. Karena prematuritas atau gangguan dalam suplai glukosa tali pusat dapat menghambat timbunan nutrien atau gizi di jaringan dan abnormalitas genetik pada enzim atau hormon yang  terlihat sejak usia bayi baru lahir, maka hipoglikemia menjadi sering ditemukan pada periode neonatal tersebut.

Sementara, pada masa bayi dan anak-anak, penyebab dari hipoglikemia  sangat bervariasi, bisa dari hiperinsulinemia (produksi insulin yang berlebihan), gangguan metabolik, kelainan dengan produksi glukosa yang kurang, infeksi berat, hipertiroidisme (produksi hormon tiroid yang berlebihan), hipopituitarisme (kelenjar pituitari/hipofisis tak mampu memproduksi satu atau lebih hormon), toksin (zat beracun) dan berbagai penyakit lain, maupun anak yang lahir dari ibu dengan diabetes tipe 1.

Meski hipoglikemia bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, akan tetapi penyebab tersering dari hipoglikemia ringan atau berat pada anak adalah diabetes tipe 1, yang terjadi karena ada ketidakseimbangan antara makanan, olahraga, dan produksi insulin.

Mengapa kondisi hipoglikemia pada bayi perlu diwaspadai? 
Karena otak berkembang dengan cepat pada tahun pertama kehidupan dan sebagian besar glukosa digunakan untuk metabolisme otak, sehingga hipoglikemia yang menetap atau berulang dapat menghalangi perkembangan dan fungsi otak. Dampak jangka panjang utama dari hipoglikemia yang berat dan lama adalah gangguan kognitif, aktivitas kejang berulang, cerebral palsy, dan gangguan pada fungsi sistem saraf otonom.

Apa saja gejala hipoglikemia pada bayi? 
Gejala-gejala dari hipoglikemia pada neonatus termasuk tremor (gerakan yang tidak terkontrol), refleks Moro yang kurang, penurunan kesadaran, kemampuan minum yang berkurang, rewel, suhu tubuh dibawah normal, sesak napas, henti napas tiba-tiba, denyut jantung lebih lambat dari normal, kejang, koma, bahkan kematian mendadak. Pada anak besar, gejala dapat bervariasi dari pusing, keringat berlebihan, rasa lapar, gelisah, kebingungan, letargi, iritabilitas, kemampuan makan dan minum yang berkurang, kejang, koma, dan juga kematian mendadak.

Bagaimana dokter menegakkan diagnosis hipoglikemia pada bayi? 
Tidak ada cara lain untuk menegakkan diagnosis hipoglikemia selain dengan memeriksa kadar gula darah. Oleh karena kekhawatiran terhadap kemungkinan sequelae neurologis, intelektual ataupun psikologis di kemudian hari, banyak penulis merekomendasikan nilai gula darah < 55 mg/dl untuk bayi harus segera ditangani. Ini terutama pada masa 2—3 jam pertama kehidupan, ketika kadar gula normalnya telah mencapai titik nadir (titik paling rendah), yang kemudian, kadar gula darah mulai naik dan mencapai nilai 50 mg/dl atau lebih setelah 12—24 jam. Pada hari ke-3, bayi normal rata-rata memiliki kadar gula darah 60 mg/dl. Pada bayi yang lebih besar dan anak-anak, kadar gula darah < 55 mg/dl sudah dianggap hipoglikemia, karena tubuh sudah menghasilkan mekanisme perlawanan pada konsentrasi gula seperti tersebut.

Apa tindakan dokter dalam menangani bayi hipoglikemia?
Penanganan hipoglikemia simtomatis akut pada neonatus atau bayi adalah pemberian secara intravena cairan dextrosa 10% 2ml/kg, diikuti oleh infus kontinu glukosa 6—8 mg/kg/menit, dengan pengaturan tetesan untuk mempertahankan kadar gula dalam batas normal. Bayi-bayi yang lahir prematur atau yang kecil jika dibandingkan dengan usia gestasinya, sebaiknya diberikan cairan glukosa lewat infus atau diberi minum sesegera mungkin untuk mencegah hipoglikemia.

Penyebab utama dari hipoglikemia harus dicari dan ditangani dengan tepat. Jika terdapat hiperinsulinisme, maka secara medis harus ditangani dengan diazoxide dan kemudian analog somatostatin. Jika hipoglikemia tidak berespons terhadap pemberian glukosa intravena plus diazoxide dan analog somatostatin, maka pembedahan, baik pankreatektomi (prosedur bedah untuk mengangkat pankreas) parsial maupun hampir total harus dipertimbangkan.

Hormon pertumbuhan dan terapi penggantian kortisol adalah pengobatan spesifik untuk anak-anak dengan hipoglikemia karena hipopituitarisme (kelenjar pituitari/hipofisis tak mampu memproduksi satu atau lebih hormon) atau insufisiensi adrenal (ketidakmampuan kelenjar adrenal untuk berfungsi dengan baik).

Apa yang harus dilakukan orangtua dalam merawat bayi yang mengalami hipoglikemia? 
Penanganan awal dalam mengatasi hipoglikemia bagi orangtua adalah dengan memberikan asupan gula atau glukosa kepada bayinya, apakah berupa susu atau cairan gula. Kemudian, sebaiknya bayinya dibawa untuk diperiksa, karena sangat penting untuk mengetahui penyebab terjadinya hipoglikemia pada bayi maupun anak, sehingga pencegahan bisa dilakukan agar hipoglikemia tidak berulang kembali.

Bagaimana cara mencegah hipoglikemia pada bayi? 
Bergantung pada penyebabnya, maka jenis pencegahan pun akan berbeda. Pada bayi prematur atau belum bisa minum dalam jumlah cukup, pencegahan dilakukan dengan pemberian cairan infus yang mengandung dextrosa di rumah sakit. Pada kasus infeksi, penanganan infeksi yang tepat akan mencegah terjadinya hipoglikemia. Pada kelainan metabolik atau hormonal, penanganan yang cepat dan tepat akan mencegah terjadinya hipoglikemia. Jadi, untuk setiap jenis penyebab, pencegahan dan penanganannya bervariasi.

Apa dampak hipoglikemia pada bayi? 
Bayi-bayi dan anak-anak dengan hipoglikemia asimtomatik telah menunjukkan memiliki gangguan neurokognitif pada masa
hipoglikemia, menyebabkan gangguan pendengaran, gangguan respons, maupun gangguan dalam kegiatan harian. Sementara konsekuensi jangka panjang dari hipoglikemia, termasuk berkurangnya ukuran kepala, IQ yang lebih rendah, dan abnormalitas bagian otak tertentu yang bisa dideteksi dengan menggunakan MRI.

Sumber: Majalah Silver Siloam Hospitals


Article By Bebby Sekarsari

Share Article