Atasi Konstipasi Pada Anak

Sebagai orangtua baru, Anda pasti ingin melihat senyum dan tawa bayi Anda setiap hari. Hal tersebut dapat menjadi tanda kecil bahwa anak Anda dalam keadaan bahagia dan sehat. Tanda lain yang harus Anda perhatikan adalah kotoran atau fesesnya. Memerhatikan apakah anak Anda buang air secara teratur merupakan salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan cukup nutrisi. Penting untuk diketahui bahwa tidak semua bayi memiliki jadwal buang air yang sama. Pada bayi yang masih menyusui secara eksklusif biasanya akan buang air setiap kali mereka selesai menyusu. Sementara yang lainnya ada yang seminggu sekali atau lebih.

Setelah bayi mulai mendapatkan MPASI, maka jadwal buang air mereka bisa saja berubah. Jadwal buang air mereka akan menyesuaikan terhadap asupan yang mereka konsumsi. Pada saat tersebutlah biasanya masalah konstipasi atau sembelit akan mulai menghampiri anak Anda.

Bagaimana cara mengetahui anak mengalami konstipasi?

Meskipun tidak buang air besar dalam jangka waktu lama bisa diindikasikan sebagai gejala konstipasi, namun buang air besar yang tidak teratur tak selalu menunjukkan gejala konstipasi. Sebab tak semua bayi memiliki jadwal buang air yang sama. Selain memerhatikan ketidakteraturan jadwal buang air bayi Anda, faktor lain yang bisa menjadi tanda konstipasi adalah feses yang keras dan susah untuk dikeluarkan. Bila feses yang keras tersebut sampai menyebabkan bayi menangis, maka kemungkinan besar mereka mengalami konstipasi, meskipun mereka buang air secara teratur. Tanda lain yang dapat menunjukkan terjadinya konstipasi pada bayi Anda adalah perut bayi yang terasa sakit saat disentuh, bayi menolak untuk makan, dan seringkali membuat wajah bayi Anda menjadi tegang saat akan buang air besar.

Apa penyebab konstipasi?

Anda mungkin terkejut, bayi yang masih mengonsumsi makanan cair, seperti ASI atau susu formula bisa saja mengalami konstipasi. Bayi yang mengonsumsi susu formula biasanya akan lebih sering mengalami konstipasi. Saat dokter sudah memberikan lampu hijau untuk mulai mengenalkan makanan bayi atau makanan keluarga pada bayi Anda, kemungkinan untuk terjadinya konstipasi akan semakin besar. Dengan menyapih ASI, membuat bayi bisa saja mengalami dehidrasi. Kekurangan cairan inilah yang diketahui sebagai salah satu penyebab konstipasi.

Meski jarang terjadi, konstipasi bisa saja disebabkan oleh kondisi medis lainnya, seperti hypotiroid, botulism, alergi makanan tertentu, dan gangguan metabolisme. Konstipasi juga bisa disebabkan oleh penyakit Hirschsprung, suatu kondisi yang disebabkan oleh cacat lahir yang mencegah usus bayi dari berfungsi dengan baik.

Cara atasi konstipasi

Untuk bayi yang masih menyusu, perubahan diet ibu bisa sangat membantu konstipasi pada bayi. Sementara pada bayi yang sudah mengonsumsi makanan padat, konstipasi dapat diatasi dengan menambahkan buah-buahan dan sayur-sayuran, seperti pir dan brokoli, maupun jus buah dan air putih dalam pola makan mereka. Cara sederhana ini dapat mengatasi konstipasi tanpa menimbulkan masalah lainnya.

Bila perubahan pola makan tersebut tidak cukup berhasil, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter anak sebelum melakukan metode lain. Stimulasi pada dubur mungkin disarankan dengan menggunakan kapas atau termometer rektal yang bisa menyebabkan buang air besar beberapa menit setelah stimulasi dilakukan. Pengobatan lain yang mungkin dilakukan adalah penggunaan obat pencahar melalui anus. Cara ini bisa memakan waktu satu jam untuk menunjukkan reaksinya. Namun, obat pencahar oral sebaiknya tidak diberikan bila tanpa petunjuk dokter karena dapat merusak perkembangan sistem pencernaan.


Article By Bebby Sekarsari

Share Article