4 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang TORCH

Saat merencanakan kehamilan, Anda perlu melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu. Sebab, untuk memberikan sebuah 'rumah' yang sehat untuk calon bayi, kesehatan ibu menjadi hal yang sangat penting. Salah satu pemeriksaan penting yang perlu dilakukan calon ibu hamil adalah pemeriksaan TORCH.

TORCH merupakan singkatan dari Toksoplasmosis, Other infections (sipilis, hepatitis B, coxsackie virus, dan lain-lain), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes simplex virus (HSV). Pemeriksaan ini perlu dilakukan karena infeksi dari penyakit tersebut dapat memengaruhi kesehatan janin, seperti menyebabkan keguguran, bayi lahir prematur, dan bayi mengalami kelainan atau kecacatan.

Menurut dokter Winda Selvina Barus, general practicioner dari Rumah Sakit Umum Siloam, terdapat empat hal yang perlu Anda ketahui tentang TORCH, yaitu:

1. Toksoplasma disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma Gondii yang biasanya menular melalui kotoran kucing atau anjing, dan makanan tidak matang terutama daging dan telur mentah. Ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini dapat mengalami keguguran, bayi lahir mati, dan kelainan bawaan pada bayi. Pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk memeriksa ada atau tidaknya infeksi ini antara lain pemeriksaan Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, dan Aviditas Anti-Toxoplasma IgG. Pemeriksaan tersebut sebaiknya dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertama, kedua dan ketiga), dan pada bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma.
 
2. Rubella dikenal juga dengan penyakit Campak Jerman. Seseorang yang terinfeksi penyakit ini dapat dikenali dengan adanya ruam pada bagian tubuh, nyeri otot, demam (meskipun tidak selalu menyertai infeksi penyakit ini) dan adanya pembesaran getah bening. Penularan penyakit ini melalui pernapasan, air liur, keringat, darah atau hubungan seksual dari penderita rubela lainnya. Penyakit ini berbahaya apabila diderita oleh wanita yang usia kehamilannya masih muda (khususnya pada trimester pertama), sebab bayi  dapat terlahir cacat atau menderita kelainan seperti kerusakan pada otak, kebutaan, tuna rungu atau bisu. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk melihat penyakit ini meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dan IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ibu belum memiliki kekebalan, akan dianjurkan untuk dilakukan vaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan kurang dari 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.

3. Cytomegalovirus (CMV) disebabkan oleh virus Cytomegalo. Virus ini tinggal secara laten dalam tubuh dan menjadi salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin. Janin berisiko tertular sehingga mengalami gangguan seperti pembesaran hati, kuning, pengapuran otak, tuli, maupun retardasi mental. Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeksi berulang, dimana infeksi akut memiliki risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang biasanya dilakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

4. Herpes Simpleks tipe II pada alat kelamin disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut saraf sensorik dan berdiam di ganglion sistem saraf otonom. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kulit, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain Anti-HSV II IgG dan IgM sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.


Article By Bebby Sekarsari

Share Article